Dua masalah stok telur untuk katering sama-sama mahal: kehabisan saat ada order mendadak, atau menumpuk sampai busuk setelah musim ramai lewat. Keduanya berasal dari sebab yang sama — jumlah pesanan ditentukan dari perasaan, bukan dari jadwal order yang sudah ada di tangan.
Artikel ini menjelaskan cara menghitung kebutuhan telur dari jadwal order, menentukan buffer stock, menjalankan FIFO, menyimpan dengan benar, dan mengatur jadwal kirim dengan supplier agar tidak kelabakan saat hajatan atau Ramadan.
Mulai dari Jadwal Order, Bukan dari Perasaan
Katering punya keunggulan yang tidak dimiliki warung: sebagian besar pesanan sudah diketahui beberapa hari sebelumnya. Manfaatkan itu.
Buat satu tabel sederhana berisi tanggal acara, jumlah porsi, dan menu yang dipesan. Dari situ turunkan kebutuhan telur per menu:
- Telur balado / bumbu bali utuh: 1 butir per porsi
- Telur asin sebagai lauk pendamping: 0,5–1 butir per porsi, tergantung apakah dipotong dua
- Orak-arik atau dadar iris untuk nasi goreng: sekitar 1 butir per 3–4 porsi
- Adonan kue, puding, atau risoles: hitung dari resep per batch, bukan per porsi
Angka ini patokan awal. Setelah 5–10 acara, ganti dengan angka Anda sendiri dari catatan pemakaian nyata.
Rumus Kebutuhan Mingguan
Kebutuhan satu periode pesan dihitung begini:
Kebutuhan = (total butir dari order terkonfirmasi + rata-rata order dadakan) x (1 + persen susut)
Order dadakan adalah pesanan yang masuk kurang dari 3 hari sebelum acara. Kalau Anda belum punya catatannya, mulai catat sekarang — biasanya angkanya cukup stabil, di kisaran 10–20 persen dari total order.
Susut mencakup telur pecah saat kirim, retak saat penyimpanan, dan yang gagal saat proses masak. Untuk telur bebek, hitung 3–5 persen pada pengiriman dalam kota dan lebih tinggi untuk kiriman jauh.
Contoh: order terkonfirmasi minggu depan butuh 800 butir, rata-rata order dadakan 15 persen, susut 4 persen. Kebutuhannya = (800 + 120) x 1,04 = 957 butir, bulatkan ke 960 atau ke kelipatan tray yang dipakai supplier Anda.
Menentukan Buffer Stock yang Masuk Akal
Buffer stock adalah stok pengaman yang tidak boleh disentuh untuk kebutuhan rutin. Fungsinya menutup dua risiko: order dadakan yang lebih besar dari biasanya, dan kiriman supplier yang terlambat.
Patokan yang praktis: buffer setara pemakaian 2–3 hari. Kalau Anda memakai rata-rata 150 butir per hari, buffer 300–450 butir.
Jangan lebih besar dari itu tanpa alasan. Telur bebek bukan barang yang bisa disimpan lama tanpa penurunan mutu, dan buffer yang kebesaran hanya memindahkan kerugian dari “kehabisan” ke “busuk”.
Naikkan buffer sementara ke 4–5 hari hanya pada tiga kondisi: menjelang musim hajatan, dua minggu sebelum Ramadan, dan saat Anda tahu supplier sedang kesulitan pasokan.
FIFO: Aturan yang Sering Diabaikan
FIFO berarti telur yang masuk lebih dulu dipakai lebih dulu. Terdengar sepele, tapi ini penyebab kerugian paling umum di dapur katering yang sibuk — orang mengambil dari tumpukan paling depan atau paling atas, yang justru kiriman terbaru.
Cara menjalankannya tanpa sistem rumit:
- Tulis tanggal terima dengan spidol di sisi setiap tray begitu barang turun dari mobil. Bukan di telurnya, di traynya.
- Tentukan satu arah pengambilan yang tetap — misalnya selalu dari rak paling kiri.
- Kiriman baru selalu ditaruh di ujung yang berlawanan. Jangan pernah menumpuk kiriman baru di atas yang lama.
- Beri tanda berbeda untuk tray buffer, dan pakai buffer hanya kalau stok rutin habis — lalu ganti buffernya di pemesanan berikutnya.
Sekali seminggu, periksa apakah ada tray yang tanggalnya lebih tua dari 10 hari masih tersisa. Kalau ada, berarti FIFO Anda bocor atau pesanan Anda kebanyakan.
Penyimpanan yang Menjaga Umur Simpan
Telur bebek utuh yang belum dicuci bisa bertahan cukup lama di suhu ruang yang sejuk, tapi umur pakainya jauh lebih terkendali kalau kondisi simpannya diatur.
- Jangan dicuci sebelum disimpan. Lapisan alami di cangkang menahan bakteri masuk. Cuci hanya sesaat sebelum dipakai.
- Simpan dengan ujung tumpul di atas. Kantung udara ada di sisi tumpul; posisi ini menjaga kuning telur tetap di tengah.
- Jauhkan dari bahan berbau tajam seperti terasi, bawang, dan ikan asin. Cangkang berpori dan bau bisa terserap.
- Hindari lantai dan dinding lembap. Taruh di rak berjarak minimal 15 cm dari lantai, dengan sirkulasi udara.
- Jangan bolak-balik keluar-masuk kulkas. Telur yang sudah didinginkan lalu dikeluarkan akan berembun, dan embun mempercepat pembusukan.
Untuk telur asin matang, umur simpannya lebih pendek dan lebih peka terhadap suhu. Kalau volume telur asin Anda besar, pertimbangkan memesan telur asin mentah dan merebusnya sesuai jadwal acara. Pembahasan lengkap soal pilihannya ada di artikel telur asin mentah atau matang.
Kapan Harus Pesan agar Tidak Kehabisan
Titik pesan ulang ditentukan dari lead time supplier, bukan dari sisa stok yang terlihat sedikit.
Titik pesan ulang = (pemakaian harian x lead time dalam hari) + buffer stock
Kalau pemakaian 150 butir per hari, lead time supplier 2 hari, dan buffer 400 butir, maka pesan lagi begitu stok menyentuh 700 butir. Bukan saat tinggal 200.
Pada musim ramai, lead time berubah. Tiga periode yang perlu diantisipasi lebih awal:
- Musim hajatan (umumnya setelah panen dan di bulan-bulan yang dianggap baik). Naikkan pesanan dan pesan 3–5 hari lebih awal dari biasanya.
- Dua minggu sebelum sampai pertengahan Ramadan. Permintaan telur asin dan lauk nasi box melonjak bersamaan di seluruh pasar. Kunci pesanan sejak sebelum Ramadan dimulai.
- Menjelang Lebaran dan libur panjang. Bukan permintaan yang jadi masalah, tapi armada pengiriman yang berkurang. Konfirmasi jadwal kirim terakhir sebelum libur.
Menyusun Jadwal Kirim Tetap dengan Supplier
Pesan mendadak setiap kali stok menipis membuat Anda selalu di antrean belakang. Jadwal kirim tetap mengubah posisi itu.
Yang perlu disepakati di awal:
- Hari dan jam kirim tetap — misalnya setiap Selasa dan Jumat pagi sebelum jam 9. Dapur katering butuh barang datang sebelum prep dimulai, bukan di tengah hari.
- Jumlah dasar per kiriman, dengan kesepakatan bahwa Anda bisa menambah sampai persentase tertentu dengan pemberitahuan H-2.
- Batas waktu perubahan jumlah. Supplier perlu tahu kapan angka Anda dianggap final.
- Prosedur klaim kalau ada yang pecah — cara melapor, batas waktu lapor, dan bentuk penggantiannya.
- Pemberitahuan lonjakan musiman, disampaikan minimal 2–3 minggu sebelumnya agar supplier bisa mengamankan pasokan.
Supplier yang melayani katering biasanya sudah terbiasa dengan pola ini; rinciannya bisa Anda lihat di halaman telur untuk katering.
Catatan yang Perlu Anda Simpan
Tanpa catatan, semua rumus di atas hanya tebakan. Empat kolom ini sudah cukup dan bisa ditulis di buku biasa:
- Tanggal terima dan jumlah butir yang masuk
- Jumlah butir pecah atau tidak layak pakai saat diterima
- Pemakaian per hari
- Sisa stok di akhir minggu
Setelah sebulan, Anda punya angka pemakaian harian yang nyata, persentase susut per supplier, dan pola order dadakan. Dari situ pesanan berhenti jadi tebakan.
Kesimpulan
Stok telur katering yang sehat bertumpu pada tiga angka: pemakaian harian, lead time supplier, dan persentase susut — sisanya tinggal aritmetika. Mulai catat ketiganya sekarang, lalu kunci jadwal kirim tetap sebelum musim ramai datang.
Butuh Penawaran untuk Kebutuhan Usaha Anda?
Hubungi tim kami lewat WhatsApp di 0856-9714-6051. Sebutkan jenis telur, perkiraan jumlah, dan lokasi pengiriman — penawaran harga kami kirim di hari yang sama.
Minimum order 200 butir. Pengiriman ke seluruh Indonesia. Lihat daftar produk kami.

Tinggalkan Balasan